Tampilkan postingan dengan label badai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label badai. Tampilkan semua postingan

20 Oktober 2013

Kedamaian dalam Badai

Bacaan: Yesaya 26:1-4 NATS: Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya (Yesaya 26:3) Terkadang hidup ini sepertinya terasa sangat berat. Tubuh yang sakit, keputusan yang sulit, kesulitan finansial, kematian orang yang kita sayangi, atau impian yang hancur selalu mengancam hidup kita. Kita menjadi ketakutan dan merasa bingung. Kita bahkan merasa sulit untuk menaikkan doa karena diliputi oleh keraguan. Kita yang mengenal Tuhan melalui iman pribadi kepada Kristus, dapat merasakan ketenangan ketika berada di tengah badai hidup, meskipun angin ribut pencobaan mengempaskan kita. Kita dapat merasakan kedamaian pikiran dan ketenangan batin. Richard Fuller, seorang pelayan Allah yang hidup pada abad 19, bercerita tentang seorang pelaut tua yang berkata, "Dalam badai yang ganas, kita harus menempatkan kapal pada posisi yang tepat dan menjaganya agar tetap berada di situ." Fuller berkata, "Orang-orang kristiani, seperti itulah yang harus kalian lakukan .... Kalian harus menempatkan jiwa kalian pada satu posisi dan menjaganya. Kalian harus tetap bergantung pada Tuhan; dan ketika berbagai hal menghadang, misalnya angin ribut, gelombang, laut yang membentang, petir, kilat, batu karang, apa pun itu, kalian harus berpegang teguh pada kesetiaan Allah dan kasih-Nya yang tiada akhir dalam diri Kristus." Apakah Anda sedang dirundung masalah? Belajarlah dari pelaut tua tadi. Arahkan pikiran Anda kepada Tuhan. Mintalah pertolongan-Nya, kemudian percayalah kepada-Nya bahwa Dia akan memberi Anda kedamaian di tengah badai yang Anda hadapi (Filipi 4:6,7) -RWD RAHASIA UNTUK MENIKMATI KEDAMAIAN ADALAH MENYERAHKAN SEGENAP KEKHAWATIRAN KITA KEPADA ALLAH

31 Agustus 2013

Badai Hidup

DI MANAKAH ALLAH? Bacaan: Ibrani 13:5-8 NATS: Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yesaya 53:4) Apakah Allah tidak hadir secara kejam? Itulah yang ditanyakan Robert McClory, seorang profesor emeritus bidang jurnalisme di Northwestern University’s Medill School of Jurnalism, setelah badai Katrina menghancurkan daerah New Orleans, Amerika Serikat. Mungkin kita ingin mencoba menjelaskan bahwa Sang Mahakuasa tidaklah bersalah karena Dia telah mengizinkan bencana yang memorak-porandakan masyarakat. Akan tetapi, apakah Allah tidak hadir dalam situasi seperti ini? Tidak, McClory tetap bersikeras. Berbicara tentang tragedi Katrina, ia mengatakan bahwa Allah ada, tetapi Dia mungkin secara kasat mata tidak terlihat hadir "bersama orang yang menderita dan hampir mati. Dia ada pada masing-masing pribadi, masyarakat, gereja, dan sekolah yang mengorganisasi bantuan bagi korban serta mengevakuasinya ke kota serta rumah mereka. Dia ada bersama ratusan ribu orang yang menunjukkan belas kasihan berupa dukungan doa dan keuangan". Begitu pula dengan tragedi menghancurkan hati yang terjadi dalam hidup kita, misalnya kematian seseorang yang kita kasihi. Kita tak punya jawaban yang cukup memuaskan atas berbagai masalah hidup yang menyakitkan seperti ini. Namun, kita tahu Tuhan bersama kita, karena Dia berkata bahwa Dia tak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Yesus disebut "Imanuel" yang secara harfiah berarti "Allah menyertai kita" (Matius 1:23). Meskipun penderitaan membuat kita bingung, kita dapat memercayai bahwa Allah ada di dekat kita dan sedang melaksanakan maksud-Nya --VCG BADAI HIDUP MEMBUKTIKAN SEBERAPA KUAT SAUH KITA