Bagi-bagi pengalaman hidup yang berkaitan dengan Karir/pekerjaan, Cinta, Keuangan, Perenungan dan hal-hal yang menarik dan positip selama mengarungi gelombang Kehidupan yang bisa dishearingkan buat teman, sahabat atau keluarga.
MENJADI karyawan tak hanya menguntungkan kantor semata, tapi juga Anda secara pribadi. Selain tawaran promosi jabatan dan kenaikan gaji yang menanti di depan mata, Anda pun dapat mengembangkan potensi diri yang dapat menaikkan bargaining position
Anda kelak.
Tidak pernah ada kamus salah dalam mengembangkan potensi diri karena hal tersebut menjadi modal yang akan menaikkan daya jual Anda di kemudian hari. Ini tentu bermanfaat bagi segi karier yang sedang Anda jalani.
Memang, terkadang kantor tak melirik potensial dan loyalitas yang sudah kita tunjukkan. Tapi percayalah, memaksimalkan diri dengan berbagai pengetahuan tidak pernah ada ruginya.
PIKIR dulu, baru bicara”. Kalimat bijak ini memang layak dipraktikkan kapan saja dan di mana saja, terutama jika berhadapan dengan atasan Anda. Jika tidak, bisa-bisa dia menghambat karier Anda.
Suka atau tidak, bos adalah orang yang memiliki kekuasaan terhadap karyawan. Sebagai konsekuensinya, Anda sebagai karyawan harus menjaga sikap dan perilaku di hadapannya. Karena itulah, banyak ahli memberikan tip cara berkomunikasi yang baik dengan atasan.
Website karier, monster.com mencoba menanyakan para atasan tentang kalimat apa saja yang tidak mereka sukai yang diungkapkan karyawannya. Berikut lima belas poin yang mereka sebutkan.
1. Saya melakukan semua ini demi uang
Tak ada bos yang ingin mendengar bahwa satu-satunya motivasi Anda bekerja atau muncul di kantor hanya karena uang. Pasalnya, ini bisa jadi menimbulkan persepsi bahwa Anda akan bekerja dengan tidak maksimal. Toh, tiap akhir bulan Anda akan tetap digaji. Bos Anda mungkin tahu bahwa Anda hanya bekerja untuk uang, bukan karena minat atau ingin membuat prestasi, tapi sebaiknya hal tersebut tak perlu dikatakan langsung kepada bos Anda.
2. Saya terjebak utang
Masalah keuangan Anda jelas bukan tanggung jawab atasan Anda. Kecuali memang ada masalah pembayaran dari perusahaan yang menyangkut karyawan secara keseluruhan.
3. Saya akan keluar setelah ….
Jika Anda punya rencana masa depan untuk bekerja di perusahaan multinasional atau membangun usaha sendiri atau sekolah di luar negeri, jangan katakan hal tersebut kepada atasan. Alasan pertama, bos Anda bisa menganggap bahwa Anda tak sungguh-sungguh bekerja dengan sepenuh hati di perusahaan tersebut. Kedua, dia bisa saja langsung mencari pengganti Anda sebelum Anda benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Jika Anda tetap ingin mengatakan, katakan secara samar saja, jangan diucapkan dengan lugas.
4. Ini bukan salah saya
Berhenti bertingkah seperti anak kecil dan mulailah mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Jika masalah tersebut disebabkan oleh Anda, maka lebih baik untuk mengatakan “apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?” daripada mengatakan, “ini bukan salah saya”.
5. Saya bosan/pekerjaan ini membosankan
Jika Anda bosan, maka sebaiknya Anda mencari jalan keluarnya, bukan dengan curhat kepada bos Anda. Tingkatkan keterampilan Anda, cari jalan bagaimana agar Anda bisa meraih pekerjaan yang Anda inginkan. Intinya, fokus pada solusi, bukan masalah.
6. Saya berpesta semalaman
Berpesta memang tak ada salahnya. Namun jika Anda berpesta sampai pagi atau berpesta hingga mabuk dan muncul di kantor dengan wajah yang tidak segar atau konsentrasi kerja yang minim, maka bos akan menganggap Anda sebagai karyawan yang tidak bisa mengontrol diri sendiri dan tidak bertanggung jawab. Jadi, lebih baik simpan detail cerita pesta Anda untuk Anda sendiri. Tak perlu diceritakan kepada bos.
7. Pekerjaan saya terlalu mudah
Jika Anda mengatakan ini, bisa jadi Anda akan “dipaksa” untuk mengundurkan diri dan mereka akan mencari orang yang bisa digaji lebih murah untuk mengerjakan pekerjaan Anda.
8. Saya tidak bisa bekerja sama dengan mereka.Saya benci mereka
Sebelum Anda mengadu kepada bos, lebih baik, jika Anda benar bermasalah dengan rekan kerja, atasi dulu masalah itu sendiri. Jika cara yang Anda lakukan tak juga berhasil, barulah Anda mengonsultasikannya kepada atasan.
9. Saya tidak bisa melakukannya karena saya memiliki pekerjaan sampingan
Dalam pikiran atasan Anda, jika Anda menolak sebuah tugas karena Anda sibuk dengan pekerjaan sampingan Anda, maka atasan bisa jadi akan mempertanyakan prioritas Anda atau malah memberhentikan Anda dari pekerjaan karena dianggap tidak loyal pada perusahaan.
10. Bagaimana Anda melakukannya tanpa internet?
Walaupun bukanlah sebuah “dosa besar”, namun kalimat ini bisa membuat bos Anda merasa sangat tua atau berada dari generasi yang jauh berbeda dengan Anda.
11. Menghela napas, menyeringai, mata berputar-putar
Bahasa tubuh bisa berarti lebih banyak daripada kata-kata. Jika ada perkataan atau perilaku bos yang tidak menyenangkan Anda, cobalah untuk memasang wajah tanpa emosi atau diam saja demi kebaikan Anda.
12. Kerjakan saja sendiri
Sekali-kali jangan pernah mengatakan hal ini kepada bos Anda. Dia atasan Anda, dan dialah yang “menguasai” Anda, bukan sebaliknya.
13. Selalu seperti ini cara mengerjakannya
Jika bos Anda mengkritik cara Anda mengerjakan tugas, jangan mengatakan kalimat tersebut. Jika Anda yakin bahwa cara Anda adalah yang terbaik, sampaikan dengan argumen yang masuk akal, bukan dengan cara yang memperlihatkan kalau pikiran Anda tidak terbuka terhadap hal-hal baru.
14. Saya akan jodohkan Anda
Hindari campur tangan terhadap urusan pribadi bos Anda. Anda bisa jadi memiliki hubungan yang dekat dengannya. Namun tetaplah bersikap profesional.
15. Maaf, saya sedang mencari inspirasi
Jika Anda tertangkap basah sedang memejamkan mata dengan posisi yang mirip orang tidur, akui sajalah bahwa Anda memang tertidur daripada berbohong kepada atasan Anda. (Koran SI/Koran SI/tty)
SULIT rasanya bekerja dengan baik jika atasan atau rekan kerja Anda tak bisa diajak bekerja sama. Anda mungkin punya berbagai prasangka buruk karena hal tersebut, tapi cobalah cari tahu alasannya.
Sarita Maybin, yang sering mengisi seminar tentang cara berpikir positif, mengaku kerap ditanya pesertanya tentang bagaimana bertahan untuk tetap berpikir positif di tengah lingkungan kerja yang negatif. Bagi Sarina, ini adalah pertanyaan penting.
“Saya tahu ini sering terjadi. Karenanya, saya menyiapkan jawaban yang sebut sebagai 3P,” jelas Sarita, seperti dikutip dari womensmedia.com.
Rumus 3P didapat Sarita berdasarkan studi yang dilakukan Dr Martin Seligman, yang mencoba merumuskan hal-hal apa saja yang membuat orang tetap berpikir positif di tengah lingkungan yang negatif, dan orang yang selalu di lingkungan yang positif.
P yang pertama, menurut Sarita, kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah perlakuan negatif yang kita terima bersifat “personal” atau pribadi. Seringkali saat atasan memarahi kita atau rekan kerja yang cemberut, walaupun kita tersenyum padanya, sebenarnya respons tersebut tidak sepenuhnya ditujukan pada kita.
“Mungkin saja dia memang sedang memiliki hari yang buruk. Jadi kita tidak perlu selalu berpikir negatif dan menganggap bahwa mereka tidak suka dengan kita. Lagi pula sebenarnya seseorang tak selalu memikirkan orang lain sebegitu memikirkan orang lain sebegitu sering seperti yang kita duga,” ungkap Sarita.
Selanjutnya, apakah perlakuan tersebut bersifat “permanen”? Cobalah perhatikan apakah sifat negatif yang kita terima sifatnya permanen? Apakah rekan kerja selalu cemberut terhadap kita semenjak kita mengenalnya? Apakah hanya Anda yang dicemberuti atau orang lain juga diperlakukan hal yang sama. Dari analisa ini, kita bisa memilih jalan pikiran yang positif agar hidup lebih menyenangkan.
Terakhir, jangan terlalu mengingat hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap gambaran keseluruhan (big picture) kita terhadap seseorang. Tidak ada orang yang sempurna, jadi jangan langsung berpikir negatif setiap kali menemukan cela seseorang.
Menghambat pikiran negatif tak hanya berpikir dan bersikap positif terhadap perilaku seseorang, kita juga harus berlaku hal yang sama terhadap situasi yang buruk atau negatif. Jika kondisi tersebut menyerang kita, siapkan rencana lain untuk menghindari pikiran negatif.
Sarita mencontohkan soal kondisi perusahaan tempatnya bekerja yang terkena resesi dan hampir bangkrut. Daripada mengeluh atau merasa depresi, dia langsung bertindak cepat dengan mencoba bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan kosmetik.
Meski ada rekan kerja yang mengejeknya, Sarita tak peduli. Dia merasa melakukan hal tersebut untuk mencegah rasa putus asa dan perasaan negatif yang mungkin muncul dengan keadaan perusahaan tempatnya bekerja yang makin memburuk.
“Dengan memiliki rencana lain, kita akan merasa memiliki pilihan. Jika Anda perhatikan, orang-orang yang berpikir negatif adalah mereka yang merasa tidak punya pilihan dan tidak tahu mau ke mana. Mereka merasa stuck di situ,” tegas Sarita.
Jadi, setiap ada kondisi buruk menimpa kita, segera cari pengalaman baru yang bisa menimbulkan pikiran dan perasaan positif.
Cari kehidupan lain tak ada yang salah dengan orang yang mencintai pekerjaannya. Mencintai pekerjaan justru akan membuat kerja kita menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Namun, jangan sampai pekerjaan merenggut semua sisi kehidupan kita. Berikan waktu dengan kegiatan lain seperti melakukan hobi, berkumpul dengan keluarga atau teman-teman, atau kegiatan lain di luar pekerjaan.
“Penelitian sudah membuktikan bahwa seseorang yang memiliki kehidupan yang seimbang antara karier dan keluarga atau hobi, akan lebih memiliki pikiran yang positif karena saat satu sisi kehidupan mereka tidak berjalan dengan baik, dia bisa menemukan keseimbangan lainnya, rasa percaya diri, harga diri, dan kesenangan dari sisi kehidupannya yang lain,” jelas Sarita.
Jangan biarkan urusan pekerjaan menguasai hidup kita, karena akan sangat menyedihkan jika disetiap dan setiap waktu, pikiran kita selalu tertuju pada pekerjaan.
“Jadi, setiap ada hal negatif di tempat kerja atau di mana pun juga, timbulkan perasaan positif tersebut agar Anda tidak menjadi orang yang mudah putus asa,” tegas Sarita.(Koran SI/Koran SI/nsa)
PERNAHKAH Anda asyik berbicara di depan umum, namun tak ada satupun orang yang benar-benar memerhatikan topik yang Anda bicrakan? Jika iya, berarti ada yang salah dengan gaya komunikasi Anda.
Jika pekerjaan Anda berhubungan erat dengan bidang yang mengharuskan Anda memotivasi karyawan atau rekan kerja, kegagalan berkomunikasi tentunya adalah hal yang fatal. Kegagalan ini hampir pasti disebabkan gaya bicara Anda yang monoton.
Jika gaya Anda monoton, jangan harap audiens akan terpengaruh, persepsi mereka terhadap topik yang Anda inginkan juga akan terbatas. Ujung-ujungnya, mereka tidak akan mampu menangkap pesan dan harapan yang Anda tumpukan pada mereka.
Tentunya Anda tak ingin hal ini terjadi pada diri Anda. Karena itu, satu-satunya cara ialah dengan mengubah gaya berkomunikasi yang monoton tersebut.
Seperti apa gaya komunikasi yang monoton itu? Konsultan komunikasi Stacey Henke mengatakan, salah satu gejalanya ialah saat Anda tidak memperlihatkan ekspresi yang sesuai dengan apa yang Anda katakan. Misalnya saja, saat megatakan bahwa Anda senang bekerja sama dengan seseorang, tapi ekspresi wajah Anda datar dan mata Anda tidak bisa mengharapkan orang tersebut mempercayai kata-kata Anda bukan?
Maka itu, mulailah berbicara dengan penuh ekspresi. Hindarilah gaya monoton agar orang-orang di sekeliling Anda tertarik untuk mendengar dan menjalankan apa yang Anda inginkan. Hanke memberi beberapa saran lain agar Anda bisa lebih lihai dalam berkomunikasi.
Perhatikan jeda
Jangan pernah berkata "eee", "uhm" atau "kata" sejenis ini saat Anda bingung mau berkata apa. "Kata" ini mengindikasikan bahwa Anda tidak tahu apa yang ingin Anda katakan selanjutnya, atau Anda bingung mau mengatakan apa. Jika ini terjadi, tentu Anda akan dianggap tak memiliki kredibilitas.
Jika kebuntuan menyerang Anda, Hanke menyarankan agar Anda jeda atau berhenti sejenak sambil memikirkan kalimat apa yang sebaiknya Anda ucapkan. Tak perlu mengisi kekosongan dengan bergumam atau mengeluarkan kata aneh karena ini akan mengacaukan pesan yang ingin Anda sampaikan pada orang lain.
"Dengan berhenti sejenak, Anda punya waktu untuk berpikir sekaligus menjaga perhatian pendengar Anda. Tentunya saat Anda mengambil jeda beberapa saat, pendengar akan terus mengamati apa yang selanjutnya akan Anda katakan," ujar Hanke seperti dikutip dari womensmedia.com.
Jadi, jangan ragu untuk menarik nafas sejenak dan berpikir tentang apa yang ingin Anda katakan.(Koran SI/Koran SI/nsa)